Suatu hari, aku mengikuti serombongan fakir miskin mendatangi rumah Al-Hallaj. Mereka kelaparan dan meminta zakat kepada Al-Hallaj.
“Aku tidak memiliki harta benda atau pun makanan” kata Hallaj. “tapi, sekarang ikuti aku.”
Hallaj lalu membawa mereka ke kuil api Zoroaster.
Penjaga kuil api berdiri di depan Hallaj, “kuil digembok! kunci kuil di bawa pendeta. Kalian tidak bisa masuk sekarang”
Hallaj tidak memperdulikan penjaga, dia terus maju dan membuka gembok dengan tangannya, tanpa kunci. Penjaga yang terperangah hanya bisa mengikuti Hallaj masuk ke dalam kuil.
Di dalam kuil Hallaj melihat api yang tidak pernah padam baik siang mau pun malam. Penjaga kuil yang berdiri di samping Hallaj berkata:
“kami memuja api ini karena api ini berasal dari api yang dilempar Nabi Ibrahim. Lalu para Zoroastrian membawa api ini ke seluruh negeri mereka.”
“siapakah yang mampu memadamkannya?” tanya Hallaj.
“Dalam kitab suci kami tertulis bahwa tidak ada seorang pun yang bisa memadamkan api ini kecuali Yesus anak Maria.”
Lalu Hallaj meletakkan tangannya di depan api, kemudian api itu mati. Penjaga kuil hanya bisa berteriak..” Tuhan, sekarang semua api di altar telah mati, di Timur dan di Barat. Siapakah yang dapat menyalakannya kembali?”
Pendeta itu bersimpuh di depan Hallaj, dan menangis sesenggukan.
“apabila engkau memiliki sesuatu untuk para fakir miskin itu, aku akan menyalakan api ini kembali.”
“di sudut itu ada peti” kata penjaga. “setiap umat Zoroaster yang memasuki kuil api ini meletakkan satu dinar ke dalam peti itu sebagai persembahan.”
Hallaj lalu membuka peti, dan memberikan semua isinya kepada para fakir miskin itu. Lalu Hallaj meletakkan kembali tangannya di depan api tadi, dan api pun kembali menyala-nyala..