Al-Hallaj dan Fakir Miskin

Suatu hari, aku mengikuti serombongan fakir miskin mendatangi rumah Al-Hallaj. Mereka kelaparan dan meminta zakat kepada Al-Hallaj.

“Aku tidak memiliki harta benda atau pun makanan” kata Hallaj. “tapi, sekarang ikuti aku.”

Hallaj lalu membawa mereka ke kuil api Zoroaster.

Penjaga kuil api berdiri di depan Hallaj, “kuil digembok! kunci kuil di bawa pendeta. Kalian tidak bisa masuk sekarang”

Hallaj tidak memperdulikan penjaga, dia terus maju dan membuka gembok dengan tangannya, tanpa kunci. Penjaga yang terperangah hanya bisa mengikuti Hallaj masuk ke dalam kuil.

Di dalam kuil Hallaj melihat api yang tidak pernah padam baik siang mau pun malam. Penjaga kuil yang berdiri di samping Hallaj berkata:

“kami memuja api ini karena api ini berasal dari api yang dilempar Nabi Ibrahim. Lalu para Zoroastrian membawa api ini ke seluruh negeri mereka.”

“siapakah yang mampu memadamkannya?” tanya Hallaj.

“Dalam kitab suci kami tertulis bahwa tidak ada seorang pun yang bisa memadamkan api ini kecuali Yesus anak Maria.”

Lalu Hallaj meletakkan tangannya di depan api, kemudian api itu mati. Penjaga kuil hanya bisa berteriak..” Tuhan, sekarang semua api di altar telah mati, di Timur dan di Barat. Siapakah yang dapat menyalakannya kembali?”

Pendeta itu bersimpuh di depan Hallaj, dan menangis sesenggukan.

“apabila engkau memiliki sesuatu untuk para fakir miskin itu, aku akan menyalakan api ini kembali.”

“di sudut itu ada peti” kata penjaga. “setiap umat Zoroaster yang memasuki kuil api ini meletakkan satu dinar ke dalam peti itu sebagai persembahan.”

Hallaj lalu membuka peti, dan memberikan semua isinya kepada para fakir miskin itu. Lalu Hallaj meletakkan kembali tangannya di depan api tadi, dan api pun kembali menyala-nyala..

Kulihat Al-Hallaj di siang itu

Siang itu Pasar Baghdad ramai sekali. Hiruk pikuk dengan pedagang dan pembeli. Di sebuah lorong kulihat ‘Abdullah Tahir Azadi bertengkar dengan seorang Yahudi. Abu Tahir memaki orang itu, “anjing kau Yahudi!”. Hampir terjadi perkelahian, tetapi kemudian kulihat seseorang menengahi mereka. Dia terlihat tidak senang dengan pertengkaran itu, sambil berkata “’Abdullah! Jangan biarkan anjing yang ada dalam dirimu itu juga menggonggong!”. Orang itu adalah Al-Hallaj. Husayn bin Manshur Al-Hallaj. Wali sufi yang syahid.

Kulihat Al-Hallaj pergi terburu-buru. ‘Abdullah pun mengikuti Hallaj. Aku mengikuti ‘Abdullah hingga ke rumah Al-Hallaj. Di depan Al-Hallaj, ‘Abdullah mengakui kesalahannya. Dia meminta maaf. Al-Hallaj kudengar berkata:

“Abdullah, orang beriman semuanya berasal dari Tuhan yang Maha Tinggi. Dia mewahyukan kepada setiap ummat satu keyakinan, bukan karena mereka yang memilih, tetapi itu adalah pilihan-Nya yang ditakdirkan kepada mereka. Apabila ada seseorang memaki orang lain karena orang lain itu meyakini ajaran yang berbeda, itu terjadi karena dia menganggap orang lain itulah yang memilih keyakinannya dengan kuasanya sendiri, dan bukan lahir dari kemahakuasaan Tuhan. Aku ingin kau tahu ‘Abdullah bahwa Yahudi, Nasrani, Islam, dan umat-umat agama yang lain hanya berbeda dalam nama dan ajaran yang berlainan. Tetapi tujuan mereka semua adalah Dia yang tidak menderita sedikit pun karena seluruh perbedaan itu semua.”

Akulah Musafir Sesat. Sesat di Jalan Tuhan adalah Jalan-Ku dan Iman-Ku

Aku berjalan menuju penciptaku. Aku menghadap kepada-Nya. Perjalanan ini takkan kupungkiri.

Bila ditanya “siapakah aku ini?”

Aku menjawab, “Akulah musafir sesat yang menuju Engkau wahai Tuhan-Ku. Inilah sesungguh-sungguhnya Aku.”

Aku selalu mencintai Mu, Aku selalu memandang Mu. Aku tidak akan memandang selain Engkau. Jika Aku menghadap Engkau, tentu Engkau akan mendengarkan-Ku.

Seandainya Engkau mencintai-Ku, tentu Engkau akan menjadi pendengaran-Ku, penglihatan-Ku, hati-Ku, tangan-Ku, penolong-Ku, dan pendukung-Ku.

Jika Aku menyeru Engkau, Engkau akan menjawab seruan-Ku. JIka aku memohon kepada-Mu, tentu Engkau akan mengabulkan permohonan-Ku.

Aku dan Engkau adalah Satu.

Akulah Musafir yang tersesat. Sesatkan Aku dalam Cinta dan Rindu kepada Engkau.

Engkaulah musafir yang tersesat. Kusesatkan Engkau dalam cinta dan rindu kepada-Ku.